I am a
seeking a
who is from to
who has a photo  
     
   
Member Login  Username:   Password:   Register Now
  Language Option
 

  Site Statistics
 
Members in Last Week:0
Total Male Members:109
Total Female Members:15
Pictures in Last Week:0
Members online:0

  Shoutbox


News Back  
TEPATKAH PILIHANMU ?
Jul 07, 2007

“Adakah cara yang tepat untuk mengetahui apakah memutuskan menikahinya akan membuat kita berbahagia atau justru membuat kita mungkin terperangkap dalam perkawinan kacau-balau?”

Dibawah ini terdapat enam tanda yang patut kita cermati dan jadi pertimbangan sebelum memutuskan menikah, yaitu :

  1. Kecanduan alcohol atau obat-obatan terlarang (napza).
    Bila pacar kita kecanduan alcohol atau napza atau pernah kecanduan kedua jenis zat di atas, dapat dikatakan pada dasarnya dia menderita gangguan mental serius dan mengalami kesulitan penyesuaian diri yang serius pula.


    Bila benar demikian, kita hendaknya bersiap-siap ditimpa kesedihan beberapa saat karena harus segera menolak lamarannya. Krarena, hal lain yang perlu dicermati adalah orang dalam pengaruh alcohol/napza memiliki kecenderungan lepas control, kendalinya menjadi rusak, serta nuraninya mudah terhipnotis sehingga dia akan dengan sendirinya kehilangan komitmen terhadap pernikahannya.

  1. Tidak setia/selingkuh.
    Bila pada masa pacaran kita memergoki ketidaksetiaan pacar, hendaknya perlu berpikir dua kali untuk menikahinya. Memang kita perlu memberi kesempatan bila terbukti dia baru sekali tidak setia karena bias saja ada factor kekhilafan. Tetapi bila baik laki-laki ataupun perempuan mengulang kembali ketidaksetiaannya, hal itu hendaknya dijadikan indicator dia adalah pacar yang sulit diharapkan memiliki komitmen tinggi terhadap ikatan pernikahan.


    Tampaknya dia memiliki kompleks promiscuity (tidak cukup puas dengan satu pasangan). Lebih baik segera hentikan hubungan pacaran yang serius tersebut karena kebiasaan berselingkuh pun akan dilakukan manakala pernikahan dengan kita dilangsungkan.

  1. Keikatan emosi yang kuat dengan keluarga.
    Pihak perempuan yang selalu mendesak ingin dekat dengan orangtuanya dan menolak diajak ikut suami yang bertempat kerja di luar pulau, misalnya. Atau pihak laki-laki yang memiliki ikatan emosional kuat dengan ibunya dan selalu ingat akan masakan rumah ibunya.


    Ikatan emosi yang eksesif dengan salah satu orangtua merupakan indicator signifikan. Artinya, kita akan menikahi seseorang yang setengah anak perempuan ayahnya dan setengah istri kita atau setengah anak laki-laki ibunya dan setengah suami kita. Tentu saja kedua peran tersebut akan dimainkan dengan cara dan hasil kurang sempurna.


    Orang dewasa yang gagal melepaskan diri dari ikatan emosional kuat tersebut sebenarnya tidak siap menikah. Biasanya orang macam ini akan menjadi pencemburu berat serta posesif.

  1. Pencemburu.
    Laki-laki dan perempuan pencemburu tanpa alas an rasional biasanya disebabkan perasaan diri yang tidak aman atau merasa bersalah karena keinginan berselingkuh yang ditekan di bawah alam sadarnya.


    Keyakinan bahwa cemburu itu bukti cinta adalah keyakinan yang salah. Sebaliknya, justru cemburu berkembang karena dia sebenarnya bersikap posesif terhadap tubuh kita dan biasanya orang pencemburu lebih suka dicintai daripada memberikan cinta kasihnya kepada kita.

  1. Sikap seksual negative.
    Menjadikan masalah seks sebagai gurauan porno secara berlebihan atau sama sekali menghindari pembicaraan tentang seks, apalagi tidak tampak gereget kerinduannya saat bertemu dengan kita setelah beberapa lama hidup p[isah kota, merupakan indicator pemilikan sikap negative terhadap seks.


    Memang tidak berarti bahwa masalah seks dalam kehidupan pernikahan sesuatu yang terpenting, tetapi seks penting demi kelanggengan pernikahan itu sendiri.

  1. Pacar neurotic.
    Orang neurotik biasanya banyak mengeluh, selalu merasa tidak berbahagia. Untuk itu, penderita neurotik sering berkunjung ke berbagai dokter dan minum berbagai macam obat. Jadi kita hendaknya berpikir dua kali untuk menikahi seseorang yang sering mengeluh sakit, depresi, mengkritik orang lain, dan segala hal.


    Atau pacar yang sering menunjukkan kemarahan tidak terkendali, histeris, defensive, argumentative, serta mengidap banyak penyakit fisik lain. Tentu saja menghadapi pasangan neurotic bias membuat kita lelah mental yang akhirnya membuat kita pelan tetapi pasti menjadi neurotic pula.(Sawitri S.S-Psikolog)



Copyright©2007 Asmara21.com